Senin, 10 Agustus 2015

OPTIMISME VS PESIMISME


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dewasa ini kata optimis dan pesimis merupakan kata yang sudah sangat akrab kita dengar. Keduanya hampir tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masa kini. Dan hampir semua orang pernah mengalami hal tersebut.
Begitu pula dengan dunia pendidikan di Indonesia, sikap optimis dan pesimis selalu mewarnai jalannya proses pendidikan. Seperti yang terjadi pada kurikulum akhir-akhir ini, yang bisa dikatakan sudah menjadi tradisi ketika ganti Menteri maka akan ganti juga kurikulumnya. Dengan adanya perubahan kurikulum tersebut tidak sedikit menimbulkan pro dan kontra, ada yang optimis jika kurikulum baru bisa lebih memajukan pendidikan di Indonesia dan ada juga yang pesimis. Sikap tersebut sangat wajar karena di Indonesia terdapat beragam suku, agama, budaya, bahasa, dan lain sebagainya sehingga tidak mudah untuk menjalankan kurikulum baru apalagi pada lingkup negara yang sangat luas.
Dan di dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai sikap optimis dan pesimis tetapi masih dalam lingkup yang lebih umum. Pembahasannya meliputi pengertian, ciri-ciri, dan dampak optimisme dan pesimisme, serta langkah-langkah untuk menumbuhkan sikap optimis dan menghilangkan sikap pesimis.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian optimisme dan pesimisme?
2.      Bagaimana ciri-ciri orang yang memiliki sifat optimis dan pesimis?
3.      Apa saja dampak dari sikap optimis dan pesimis?
4.      Bagaimana cara menumbuhkan sikap optimis dan menghilangkan sikap pesimis?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengertian optimisme dan pesimisme.
2.      Mengetahui ciri-ciri orang yang memiliki sifat optimis dan pesimis.
3.      Mengetahui dampak dari sikap optimis dan pesimis.
4.      Mengetahui cara menumbuhkan sikap optimis dan mengilangkan sikap pesimis.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Optimisme dan Pesimisme
Optimisme berasal dari bahasa latin optimus (yang terbaik). Berikut beberapa pengertian optimisme, yaitu:
1.      Pandangan bahwa segala sesuatu diatur demi yang terbaik.
2.      Dalam pengertian psikologis, optimisme merupakan sikap pikiran yang condong melihat segala sesuatu dari seginya yang baik.
3.      Dalam pengertian metafisik, optimisme merupakan pandangan bahwa dunia yang sekarang ini sebagai ekspresi kebijaksanaan dan kebaikan Allah, merupakan yang terbaik dari semua dunia yang mungkin ada.[1]
Optimisme adalah doktrin hidup yang mengajari kita untuk meyakini adanya kehidupan yang lebih baik buat kita (punya harapan). Orang optimis adalah orang yang yakin (dengan alasan-aalsan yang dimilikinya) bahwa ada kehidupan yang lebih baik dihari esok. Optimisme berarti kecenderungan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa, atau hasil yang lebih baik. Optimisme berarti menjalankan apa yang kita yakini atau apa yang dibutuhkan oleh harapan kita.[2]
Pesimisme berasal dari bahasa Latin pessimus yang artinya terburuk. Pesimis adalah kecenderungan memandang segala sesuatu dari segi yang buruk dan segi yang tidak mengandung harapan. Dari segi psikologis, pesimisme merupakan sikap umum yang mendorong orang melihat sisi buruk dari segala sesuatu. Sedangkan dari segi metafisik, pesimisme merupakan pandangan yang mengatakan bahwa hakikat segala sesuatu pada dasarnya ialah kejahatan atau sesuatu yang negatif.[3]
Ungkapan gelas setengah penuh dan setengah kosong digunakan untuk cara pandang orang yang optimistic dan orang yang pesimistik. Bagi orang optimistic, gelas yang berisi  air sampai setengah dipandang sebagai setengah penuh. Sedangkan bagi orang pesimistik gelas tersebut dianggap sebagai setengah kosong. Ungkapan tersebut menerangkan bahwa situasi yang sama bisa dipandang berbeda. Apabila si optimis mempunyai banyak masalah maka ia akan memandangnya dengan positif. Berbeda dengan si pemisis yang memandangnya sebagai kesialan.
Menurut laporan dalam epidemilogi, pesimis yang stress berkemungkinan 4 kali lebih tinggi terserang pilek daripada orang optimis. Bahkan dalam berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa stress dapat mengganggu system imun dan mengakibatkan kita lebih rentan terhadap virus.[4]

B.       Ciri-ciri Orang yang Optimis dan Pesimis
Ciri-ciri orang yang optimis:
1.      Melihat kesulitan sebagai ujian menuju kesuksesan bukan sebuah kegagalan.
2.      Orang optimis selalu bersemangat dalam meraih cita-citanya dengan bekerja keras secara cerdas untuk menghasilkan suatu yang terbaik.
3.      Orang yang optimis mampu melihat peluang dibalik tantangan, kesempatan dibalik kesempitan, kemudahan dibalik kesulitan, dan dia selalu bergairah untuk berjuang mewujudkannya.[5]
4.      Mempunyai perasaan yang bagus terhadap dirinya.
5.      Mempunyai fokus langkah yang selektif, sasaran usaha yang jelas.
6.      Memiliki bentuk keyakinan yang membangkitkan.
7.      Memiliki perasaan diberkati rahmat Tuhan dan mampu menikmati hidup.
8.      Mampu menggunakan akal sehat dalam menghadapi tang tangan hidup.[6]
Ciri-ciri orang yang pesimis:[7]
1.      Jika berbuat salah, memberi label atau gelar yang buruk pada diri sendiri.
2.      Jika tidak berhasil melakukan sebuah pekerjaan, lebih suka melihat hal-hal negatif ketimbang hal-hal positif.
3.      Jika melakukan kesalahan kecil, akan membesar-besarkan atau melebih-lebihkan.
4.      Mudah curiga. Contoh jika sms anda tidak dibalas oleh kawan yang anda kirimi, anda langsung memvonis bahwa kawan itu tidak suka lagi, meremehkan anda atau tidak mau diganggu.
5.      Melihat hidup ini hanya hitam dan putih. Orang pesimis menganggap bahwa hidup ini hanya ada gagal atau berhasil, suka atau tidak suka, benci atau rindu, iya atau tidak.
6.      Jika ada kejadian yang beruntun dan kompleks mudah dan cepat sekali mengambil kesimpulan.
7.      Melakukan over generalisasi yang negatif. Maksudnya seseorang yang pesimis menganggap bahwa orang yang pernah melakukan kesalahan pada dirinya akan melakukan hal yang sama seterusnya.
8.      Lebih cenderung mencari untung untuk diri sendiri.

C.      Dampak Optimisme dan Pesimisme
1.      Dampak Sikap Optimis
Optimis merupakan sikap manusia yang selalu didominasi oleh pikiran positif dan melihat segala sesuatu dengan sudut pandang yang terbaik. Berikut adalah dampak dari bersikap optimis :[8]
a.       Mendapat energi positif (dorongan). Harapan dibutuhkan untuk mengeluarkan energi positif. Harapan yang bagus akan memunculkan energi dorongan yang lebih bagus. Kehidupan yang lebih bagus tidak dapat diwujudkan dengan hanya harapan, namaun untuk meraihnya dibutuhkan harapan yang bagus. Orang yang memiliki sikap optimis selalu mempunyai harapan dalam hidupbya dan dibuktikan dengan tindakan yang sebaik-baiknya.
b.      Tidak takut dalam menghadapi masalah. Orang yang optimis Memiliki perlawanan dan kemauan yang kuat untuk menyelesaikan masalah atau hamabatan, dan berkeyakinan kuat bahwa dirinya akan berhasil.
c.       Dapat menerima fakta hidup dengan kesadaran tanapa banyak mengeluh maupun protes.

2.      Dampak Sikap Pesimis
Pesimis adalah sikap manusia yang selalu didominasi oleh pikiran negatif, melihat segala sesuatu dengan fokus pada hal buruk dan jahat. Berikut adalah dampak dari orang yang memiliki sikap pesimis :
a.       Ketika mengalami kepedihan atau musibah, orang cenderung menjadi peka. Pada saat itu pesimisme dapat muncul sebagai akibat pemberontakan yang kuat dalam emosi dan perasaan seseorang. Pesimisme yang memasuki pikiran dengan cara ini meninggalkan pengaruhnya pada proses pemikiran orang.
b.      Orang yang menderita pesimisme jelas mengalami rasa sepi dan curiga ketika berurusan dengan orang lain. Sebagai akibat situasi yang tak memuaskan itu, orang ini menghancurkan kemampuannya untuk berkembang dan maju dan, dengan begitu, menakdirkan dirinya pada kehidupan yang tak diinginkan. Berdasarkan fakta-fakta ini, pesimisme merupakan faktor utama dalam kasus bunuh diri.
c.       Keindahan ciptaan tidak terwujud di mata orang pesimisme. Selain itu, kebahagiaan akan tampil kepadanya dalam busana kebosanan dan nestapa. Orang yang pikirannya menjadi demikian negatif akan kehilangan segala keuntungan dari kemampuannya, karena dengan khayalannya orang pesimis akan menyia-nyiakan hidupnya dan lupa akan manfaat-manfaat besar yang akan dicapainya.

D.      Langkah-Langkah Menumbuhkan Sikap Optimis dan Menghilangkan Sikap Pesimis
Langkah Menumbuhkan Sikap Optimis antara lain sebagai berikut :
1.      Pusatkan terus pada yang positif. Dalam menghadapi segala permasalahan maka berpikir positif akan lebih memusatkan perhatian pada suatu permasalahan atau keadaan yang bagaimana yang harus terjadi.
2.      Bergabung dengan orang yang positif. Gunakan waktu untuk bersama dengan orang-orang yang punya hasrat dan tekad yang sama untuk sukses.[9]
3.    Temukan hal-hal positif dari pengalaman kita di masa lalu.
4.    Tata kembali target yang hendak kita capai.
5.    Pecah target besar menjadi target-target kecil yang segera dapat dilihat keberhasilannya.
6.    Bertawakallah kepada Allah setelah melakukan ikhtiar.
7.    Ubah pandangan diri kita terhadap kegagalan.
8.    Yakinkan kepada diri kita bahwa Allah SWT akan selalu menolong dan memberi jalan keluar. [10]
Langkah menghilangkan sikap pesimis adalah sebagai berikut:[11]
1.    Bangun sikap optimis.
2.    Hilangkan sikap ragu dalam diri Tentukan tujuan hidup sebenarnya.
3.    Kuatkan iman dalam diri.
4.    Percaya pada Allah SWT, bahwa Allah akan selalu menolong kita dalam kondisi apapun

BAB III
ANALISIS

Optimisme merupakan suatu pandangan yang melihat segala sesuatu dari segi baiknya. Sedangkan pesimisme adalah pandangan yang melihat segala sesuatu dari sisi buruknya.
Menjadi optimis dan pesimis itu ada perbedaan dalam menghadapi kenyataan. Orang yang pesimis adalah orang yang sudah mempersiapkan diri untuk keadaan yang buruk, sementara orang yang optimis adalah orang yang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi hal-hal baik. Seorang yang pesimis sudah menempatkan dirinya pada posisi jatuh.
Optimisme dan pesimisme memilki ciri-ciri yang berbeda dalam memandang hidup dan menghadapi masalah. Orang optimis selalu menganggap semua masalah adalah ujian untuk hidupnya agar lebih baik, sedangkan orang pesimis dalam menghadapi masalah mengganggap masalah sebagai takdir buruk yang terjadi padanya.
Sikap optimis dan pesimis sangat mempengaruhi kesehatan tubuh. Karena orang pesimis mudah mengalami depresi dan stress dan hidupnya penuh dengan tekanan. Berbeda dengan orang optimis yang mempunyai pola hidup yang positif dan kesehatan mentalnya terjaga.
Menumbuhkan sikap optimis dan menghilangkan sikap pesimis tidak mudah, namun jika langkah-langkah yang ada dilakukan dengan kemauan yang sungguh-sungguh dan terus-menerus pasti bisa tecapai.

BAB IV
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Optimisme merupakan sikap pikiran yang condong melihat segala sesuatu dari seginya yang baik. Pesimisme merupakan sikap umum yang mendorong orang melihat sisi buruk dari segala sesuatu. Pola hidup optimisme dan pesimisme berbeda, di saat terjadi sesuatu yang buruk orang optimis tidak menyalahkan dirinya. Karena dia selalu percaya bahwa kejadian buruk akan diikuti dengan kejadian yang menyenangkan. Sebaliknya orang yang pesimis menganggap kejadian buruk akan menghancurkan hidupnya untuk selamanya.
  
DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,1996.
el-Bantanie, M. Syafi’ie, Cara Nyata Mempercepat Pertolongan Allah, Jakarta: Wahyu Media, 2009.
Pangkalan Ide, Imunisasi Mental untuk Bangkitkan Optimisme, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2010.
Pasiak, Taufiq, Manajemen Kecerdasan, Bandung: Mizan, 2006.
Ubaedy, An, Berkarier di Era Global, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2008.



[1] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1996), hal. 756.
[2] An Ubaedy, Berkarier di Era Global, (Jakarta : Elex Media Komputindo, 2008), hal. 210.
[3] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1996), hal. 837-838.
[4] Pangkalan ide, Imunisasi Mental untuk Bangkitkan Optimisme, (Jakarta:Elex Media Komputindo,2010),hal.2.
[5] M. Syafi’ie el-Bantanie, Cara Nyata Mempercepat Pertolongan Allah, (Jakarta: Wahyu Media, 2009), hal. 50-52.
[6]An Ubaedy, Berkarier di Era Global, (Jakarta : Elex Media Komputindo,2008), hal. 213-214.
[7] Taufiq Pasiak, Manajemen Kecerdasan, (Bandung: Mizan, 2006), hal. 149-151.
[8] Ibid,.hal. 210-211.
[9] Pangkalan Ide, Imunisasi Mental untuk Bangkitkan Optimisme, (Jakarta:Elex Media Komputindo, 2010), hal.14.
[11] Ibid.

Rabu, 24 Juni 2015

LAPORAN TOUR BUDAYA MUSEUM BATIK DAN SULAM YOGYAKARTA



A.    LATAR BELAKANG PEMILIHAN OBJEK
Pada tanggal 2 Oktober 2009, batik disahkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO[1]. Indonesia patut berbangga karena bertambah lagi warisan budaya bangsa yang diakui oleh UNESCO, sehingga keberadaan masyarakat tidak hanya diapresiasi oleh masyarakat Indonesia saja, tapi juga oleh masyarakat dunia. Kini batik tidak hanya dikenakan dalam pertemuan-pertemuan resmi saja, melainkan telah merambah ke dalam kehidupan sehari-hari. Lihat saja di kampus, sekolah, mall, dan tempat umum lainnya, banyak orang yang kini suka mengenakan batik.
Sayangnya, meski kini telah banyak orang yang mengenakan batik, masih banyak juga yang tidak mengetahui seperti apa sejarah batik dan proses dibalik terciptanya kain batik.
“Tak kenal maka tak sayang”, semboyan tersebut memberikan inspiratif kepada penulis untuk memberikan gambaran tentang sejarah dan proses pembuatan batik, dengan harapan agar para pembaca semakin mengenal dan cinta dengan produk asli Indonesia. Penulis juga berharap agar generasi-generasi muda bangsa mau untuk mengembangkan dan melestarikan warisan budaya ini.
Museum Batik dan Sulam Yogyakarta penulis pilih sebagai objek kunjungan budaya ini, karena museum tersebut merupakan museum batik tertua di Yogyakarta yang banyak menyimpan koleksi-koleksi batik dari berbagai tempat dan dari zaman ke zaman.

B.     WAKTU KUNJUNGAN
Hari           : Senin, 30 Maret 2015
Pukul         : 10.00-11.30 WIB
Tiket          : Rp20.000,00/orang

C.    OBJEK KAJIAN
a.      Sejarah Museum Batik Yogyakarta
Museum Batik Yogyakarta merupakan Museum Batik pertama di Yogyakarta.
Beralamat di Jl. Dr. Sutomo No 13 A Yogyakarta (dari stasiun Lempuyangan ke selatan sekitar 1 km). Museum tersebut diresmikan pada tanggal 12 Mei 1977 oleh Kanwil P & K Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta atas prakarsa keluarga Hadi Nugroho.
Pada awalnya, Hadi Nugroho merasa gundah melihat banyak kain batik lawas berkualitas yang dipotong untuk keperluan garmen dan ekspor luar negeri. Ia dan sang istri, Dewi Sukaningsih pun mulai berkomitmen untuk mendirikan museum batik. Hadi Nugroho mulai memburu batik tanpa terkecuali batik koleksi kerabat mereka.
Pada tahun 2000, Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan kepada Museum Batik Yogyakarta atas karya sulaman terbesar berupa batik berukuran 90 x 400 cm2. Satu tahun kemudian, Museum Rekor Indonesia (MURI) kembali memberikan penghargaan sebagai pemrakarsa berdirinya museum sulaman yang pertama di Indonesia. Kini, Museum Batik Yogyakarta menyimpan  sekitar 1700 koleksi perbatikan yang meliputi batik cap, batik tulis, wajan, aneka canting dari generasi ke generasi, dan aneka ragam bentuk cap.

b.      Koleksi Museum
Museum tersebut menyimpan lebih dari 1.200 koleksi perbatikan yang terdiri dari 500 lembar kain batik tulis, 560 batik cap, 124 canting (alat pembatik), dan 35 wajan serta bahan pewarna, termasuk malam[2].
Koleksi museum ini terdiri berbagai batik gaya Yogyakarta, Solo/Surakarta, Pekalongan, dan gaya tradisional lainnya dalam bentuk kain panjang, sarung, dan sebagainya. Motifnya kebanyakan berupa motif pesisiran, pinggiran, terang bulan, dan motif esuk-sore.
Motif pesisiran cirinya diantaranya: warna cerah dan mencolok, motifnya bunga-bunga/ boketan (pengaruh dari Belanda), dan colour full (pngaruh dari China). Motif esuk sore dilatarbelakangi karena setelah Perang Dunia II kain sangat langka, sehingga dalam satu kain dibuat dua motif.
Beberapa jenis canting diantaranya: canting cecek (untuk membuat titik-titik), canting klowong (untuk membuat motif utama), dll.
Beberapa koleksinya yang terkenal antara lain: Kain Panjang Soga Jawa (1950-1960), Kain Panjang Soga Ergan Lama (tahun tidak tercatat), Sarung Isen-isen Antik (1880-1890), Sarung Isen-isen Antik (kelengan) (1880-1890) buatan Nyonya Belanda EV. Zeuylen dari Pekalongan, dan Sarung Panjang Soga Jawa (1920-1930) buatan Nyonya Lie Djing Kiem dari Yogyakarta. Semua koleksi yang ada dalam museum ini diperoleh dari keluarga pendiri Museum Batik Yogyakarta. Koleksi tertuanya adalah batik buatan tahun 1730.
Sedangkan, ratusan koleksi lainnya adalah hasil karya sendiri pemilik museum dan juga dari hibah beberapa orang misalnya Ang Dji Kiat dll. Beberapa koleksi sulaman diantaranya: gambar Presiden RI pertama Soekarno, mantan Presiden Soeharto, Megawati Soekarnoputri, dan Hamengkubuwono IX. Selain itu ada juga potret wajah pahlawan Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro. Ada pula sulaman wajah Paus Yohanes Paulus II dan Bunda Teresa dari India.

c.       Cara membatik
Berikut ini urutan membatik:
1.      Ngemplong
Ngemplong merupakan tahap paling awal atau pendahuluan, diawali dengan mencuci kain mori. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kanji. Kemudian dilanjutkan dengan pengeloyoran, yaitu memasukkan kain mori ke minyak jarak atau minyak kacang yang sudah ada di dalam abu merang. Kain mori dimasukkan ke dalam minyak jarak agar kain menjadi lemas, sehingga daya serap terhadap zat warna lebih tinggi.
2.      Nyorek atau Memola
Nyorek atau memola adalah proses menjiplak atau membuat pola di atas kain mori dengan cara meniru pola motif yang sudah ada, atau biasa disebut dengan ngeblat. Pola biasanya dibuat di atas kertas roti terlebih dahulu, baru dijiplak sesuai pola di atas kain mori.
Tahapan ini dapat dilakukan secara langsung di atas kain atau menjiplaknya dengan menggunakan pensil atau canting. Namun agar proses pewarnaan bisa berhasil dengan baik, tidak pecah, dan sempurna, maka proses batikannya perlu diulang pada sisi kain di baliknya. Proses ini disebut ganggang.
3.      Mbathik
Mbathik merupakan tahap berikutnya, dengan cara menorehkan malam batik ke kain mori, dimulai dari nglowong (menggambar garis-garis di luar pola) dan isen-isen (mengisi pola dengan berbagai macam bentuk). Di dalam proses isen-isen terdapat istilah nyecek, yaitu membuat isian dalam pola yang sudah dibuat dengan cara memberi titik-titik (nitik). Ada pula istilah nruntum, yang hampir sama dengan isen-isen, tetapi lebih rumit.
4.      Nembok
Nembok adalah proses menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna dasar, dalam hal ini warna biru, dengan menggunakan malam. Bagian tersebut ditutup dengan lapisan malam yang tebal seolah-olah merupakan tembok penahan.
5.      Medel
Medel adalah proses pencelupan kain yang sudah dibatik ke cairan warna secara berulang-ulang sehingga mendapatkan warna yang diinginkan.
6.      Ngerok dan Mbirah
Pada proses ini, malam pada kain dikerok secara hati-hati dengan menggunakan lempengan logam, kemudian kain dibilas dengan air bersih. Setelah itu, kain diangin-anginkan.
7.      Mbironi
Mbironi adalah menutupi warna biru dan isen-isen pola yang berupa cecek atau titik dengan menggunakan malam. Selain itu, ada juga proses ngrining, yaitu proses mengisi bagian yang belum diwarnai dengan motif tertentu. Biasanya, ngrining dilakukan setelah proses pewarnaan dilakukan.
8.      Menyoga
Menyoga berasal dari kata soga, yaitu sejenis kayu yang digunakan untuk mendapatkan warna cokelat. Adapun caranya adalah dengan mencelupkan kain ke dalam campuran warna cokelat tersebut.
9.      Nglorod
Nglorod merupakan tahapan akhir dalam proses pembuatan sehelai kain batik tulis maupun batik cap yang menggunakan perintang warna (malam). Dalam tahap ini, pembatik melepaskan seluruh malam (lilin) dengan cara memasukkan kain yang sudah cukup tua warnanya ke dalam air mendidih.
Setelah diangkat, kain dibilas dengan air bersih dan kemudian diangin-arginkan hingga kering. Proses membuat batik memang cukup lama. Proses awal hingga proses akhir bisa melibatkan beberapa orang, dan penyelesaian suatu tahapan proses juga memakan waktu. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kain batik tulis berharga cukup tinggi.

d.      Nilai-Nilai Pendidikan
Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari warisan budaya ini, diantaranya:
a.       Ketekunan, Keuletan, Ketelitian serta Kesabaran
Dalam pembuatan sebuah batik tulis yang penuh nilai estetik tidaklah mudah, diperlukan ketekunan, ketelitian serta kesabaran yang tinggi. Ini memberikan pelajaran pada kita bahwa untuk mencapai sebuah cita-cita yang tinggi diperlukan usaha-usaha yang tinggi juga, tidak ada sebuah cita-cita yang pencapaiannya secara instan tanpa usaha.
b.      Tidak perlu khawatir dan takut
Seharusnya kita tak perlu khawatir dan takut, apabila batik tulis kita ditiru atau diproduksi oleh negara lain. Melukis di atas kain, dapat dilakukan oleh siapa saja di penjuru dunia, di negara mana saja. Sudah dapat dipastikan, hasil karya batik akan mempunyai sentuhan seni, motif dan ragam hias yang berbeda. Teknik pembuatan batik tulis dan teknik pewarnaannya tentu tidak sama di setiap negara. Bukankah budaya kita terkenal “kuat” serta “tahan uji” dan tidak mudah dipengaruhi oleh siapapun? Bukankah budaya kita merupakan budaya yang besar, adiluhung, berbadan samudra yang tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh budaya lain? Budaya batik tulis yang telah mengakar pada kehidupan sampai pelosok perdesaan, takkan mudah lapuk oleh hujan, dan tak lekang oleh jaman.
Bukankah kita justru bangga, bila hasil karya budaya batik tulis kita diperagakan di negara lain yang sebenarnya merupakan promosi kekayaan budaya asli dari bumi persada Indonesia? Apabila kita merasa takut kehilangan sosok budaya batik tulis, seharusnya kita berlomba melakukan tindakan untuk saling memperkuat dan mempertahankan khasanah dan ragam budaya yang telah kita miliki.
c.       Konsep fitrah
Dari perspektif Islam batik punya makna filosofis, diantaranya: Batik yang beragam motif dan corak, bahan dasarnya adalah mori yang berwarna putih. Ini memberikan pelajaran bahwa diri manusia pada dasarnya bersih, lingkunganlah yang memberikan sentuhan motif dan corak pada diri manusia tersebut. Implementasi pendidikannya, sebagai calon guru dan calon orang tua, kita harus memberikan sesuatu yang terbaik untuk mendukung terbentuknya pribadi yang baik, luhur, berakhlak dan dapat menjadi insane kamil.
d.      Cintailah budaya local
Sebagai manusia yang tidak dapat terlepas dari budaya, kita harus mencintai dan merasa memiliki berbagai budaya yang ada di daerah kita. Nabi pun memberikan apresiasi terhadap budaya local, salah satunya tentang pakaian. Nabi sebagai penyempurna akhlak, tentunya jika berkehendak untuk membuat pakaian khas umat islam sangatlah mungkin, tetapi apa yang dilakukan beliau?, beliau tidak melakukan itu, justru malah tetap menggunakan pakaian yang sudah ada dan menjadi budaya bangsa Arab. Kita yang hidup di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, pakaian khas orang Yogyakarta adalah batik, maka kalau kita mengaku ittiba rosul maka pakaian yang kita gunakan adalah pakaian batik juga, sesuai dengan pakaian yang ada di daerah dimana kita tinggal tersebut.

D.    TUGAS DAN PERAN PENULIS
Penulis berkunjung bersama kelompok kami sejumlah 10 anak. Disana kami dipandu oleh Mbak Lia, Mba Bunga, dan Bapak Prayogo yang sudah disediakan oleh pengelola museum tersebut. Kami mengelilingi museum tersebut melihat, mengamati dan belajar tentang berbagai hal yang berkaitan dengan batik. Pengelola museum menawari kami untuk kursus membatik disana, karena keterbatasan waktu kami belum bisa belajar langsung proses membatiknya, hanya mlihat beberapa orang yang sedang membatik disana. Kami bertanya kepada pemandu tentang berbagai hal yang berhubungan dengan batik dan museum tersebut, dan data yang kami proleh seperti apa yang telah kami laporkan di atas.







[1] Wikipedia.org
[2] Diolah dari berbagai sumber