Sabtu, 10 September 2016

ISLAM KOSMOPOLITAN

        BAB I      
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Begitu banyak pemikiran-pemikiran tentang Islam. Dan salah satunya pemikiran Abdurrahman Wahid tentang Islam Kosmopolitan. Dalam Islam Kosmopolitan ini  umat Islam diajak untuk senantiasa berpegang teguh terhadap nilai-nilai universal agama, nasionalisme dan menjunjng tinggi keterbukaan akan segala kemungkinan menerima perbedaan.[1]
Sebagai umat Islam harus mampu menerapkan pemikiran Gus Dus tersebut. Tujuannya supaya umat Islam bisa memiliki pemikiran yang luas sehingga akan menjadi masyarakat yang maju. Dan Islam bisa menjadi agama yang rahmatan lil’alamin.
Islam yang ada di tangan Gus Dur, adalah Islam yang bisa tampil sejuk, pluralis, serta demokratis. Agama Islam menjadi agama yang melindungi umat manusia, bukan agama yang malah menebar ketakutan kepada umat agama lain.

B.       Rumusan masalah:
1.    Bagaimana biografi dari KH. Abdurrahman Wahid?
2.    Apa pengertian dari  islam kosmopolitan?
3.    Bagaimana ciri-ciri dari islam  kosmopolitan?
4.    Bagaimana apresiasi masyarakat Indonesia terhadap pemikiran islam kosmopolitan?

C.       Tujuan
1.    Mengetahui biografi dari KH. Abdurrahman Wahid.
2.    Mengetahui pengertiaan dari islam kosmopolitan.
3.    Mengetahui ciri-ciri islam kosmopolitan.
4.    Mengetahui apresiasi masyarakat Indonesia terhadap pemikiran islam kosmopolitan.



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Biografi KH. Abdurrahman Wahid
Gus Dur adalah panggilan akrab dari KH. Abdurrahman Wahid. Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur pada tanggal 7 September 1940. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Adakhil yang berarti sang penakluk. Karena kata “Adakhil” tidak cukup dikenal, maka diganti dengan nama “Wahid” yang kemudian lebih dikenal dengan Gus Dur.
Gus Dur adalah anak pertama dari enam bersaudara. Ia lahir dari keluarga yang cukup terhormat. Kakek dari ayahnya, K.H. Hasyim Asyari, merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Sementara itu kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayahnya K.H. Wahid Hasyim merupakan sosok yang terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949, sedangkan ibunya Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denayar Jombang.
Pada tahun 1944 Abdurrahman Wahid pindah dari kota asalnya, Jombang, menuju Jakarta, karena pada saat itu ayahnya terpilih menjadi ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia yang biasa disingkat “Masyumi”. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang mempertahankan kedaulatan Indonesia melawan Belanda. Ia kembali ke Jakarta pada akhir perang tahun 1949 karena ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama.
Gus Dur menempuh ilmu di Jakarta dengan masuk ke SD Kris sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Pada tahun 1952 ayahnya sudah tidak menjadi Menteri Agama tetapi beliau tetap tinggal di Jakarta. Pada tahun 1953 di bulan April ayah Gus Dur meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.
Pada tahun 1954 pendidikannya berlanjut dengan masuk ke sekolah menengah pertama, yang pada saat itu ia tidak naik kelas. Lalu ibunya mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan.
Setelah lulus dari SMP pada tahun 1957, Gus Dur memulai pendidikan muslim di sebuah Pesantren yang bernama Pesantren Tegalrejo di Kota Magelang. Pada tahun 1959 ia pindah ke Pesantren Tambakberas di Kota Jombang. Sementara melanjutkan pendidikanya, ia juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai seorang guru yang nantinya sebagai kepala sekolah madrasah.  Bahkan ia juga bekerja sebagai jurnalis Majalah Horizon serta Majalah Budaya Jaya.
Pada tahun 1963, ia menerima beasiswa dari Kementrian Agama untuk melanjutkan pendidikan di  Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Ia pergi ke Mesir pada November tahun 1963.
Akhirnya ia mengalami kegagalan di Mesir. Hal ini terjadi karena Gus Dur tidak setuju akan metode pendidikan di universitas dan pekerjaannya setelah G 30 S sangat mengganggu dirinya. Pada tahun 1966 ia harus mengulang pendidikannya. Namun pendidikan pasca sarjana Gus Dur diselamatkan oleh beasiswa di Universitas Baghdad. Akhirnya ia pindah menuju Irak dan menikmati lingkungan barunya. Meskipun pada awalnya ia lalai, namun ia dengan cepat belajar. Gus Dur juga meneruskan keterlibatannya dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dan sebagai penulis majalah tersebut.
Pada tahun 1970 ia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad. Setelah itu, Gus Dur ke Belanda untuk meneruskan pendidikan. Ia ingin belajar di Universitas Leiden, namun ia kecewa karena pendidikan di Universitas Baghdad tidak diakui oleh universitas tersebut. Akhirnya ia pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali lagi ke Indonesia pada tahun 1971.
Di Jakarta, Gus Dur berharap akan kembali ke luar negeri untuk belajar di Universitas McGill di Kanada. Ia pun bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Organisasi ini terdiri dari kaum intelektual  muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES mendirikan majalah yang bernama Prima dan Gus Dur menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Beliau berkeliling pesantren di seluruh Jawa.
Pada saat itu pesantren berusaha keras untuk mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan mengadopsi kurikulum pemerintah. Karena nilai-nilai pesantren semakin luntur akibat perubahan ini, Gus Dur pun prihatin dengan kondisi tersebut. Ia juga prihatin akan kemiskinan yang melanda pesantren yang ia lihat. Melihat kondisi tersebut Gus Dur membatalkan belajar ke luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.
Pada tahun 1974 ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pesantren Tebu Ireng hingga tahun 1980. Pada tahun 1980 ia menjabat sebagai seorang Katib Awwal PBNU hingga pada tahun 1984. Pada tahun 1984 ia naik pangkat sebagai Ketua Dewan Tanfidz PBNU. Tahun 1987 Gus Dur menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia. Pada tahun 1989 kariernya pun meningkat dengan menjadi seorang anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI. Dan hingga akhirnya pada tahun 1999 sampai 2001 ia menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Namun, hanya sekitar 20 bulan Gus Dur menjabat sebagai Presiden RI. Pada 23 Juli 2001, MPR secara resmi memberhentikan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri.
Setelah berhenti menjabat sebagai presiden, Gus Dur tidak berhenti untuk melanjutkan karier dan perjuangannya. Pada tahun 2002 ia menjabat sebagai penasihat Solidaritas Korban Pelanggaran HAM. Dan pada tahun 2003, Gus Dur menjabat sebagai Penasihat pada Gerakan Moral Rekonsiliasi Nasional.
Tahun 2004, Gus Dur kembali berupaya untuk menjadi Presiden RI. Namun keinginan ini kandas karena ia tidak lolos pemeriksaan kesehatan oleh Komisi Pemilihan Umum.
Pada Agustus 2005 Gus Dur menjadi salah satu pimpinan koalisi politik yang bernama Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu. Bersama dengan Tri Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung, dan Megawati, koalisi ini mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono[2].
Pada tahun 2009 Gus Dur menderita beberapa penyakit. Bahkan sejak ia menjabat sebagai presiden, ia menderita gangguan penglihatan sehingga surat dan buku seringkali dibacakan atau jika saat menulis seringkali juga dituliskan orang lain.[3] Ia mendapatkan serangan stroke, diabetes, dan gangguan ginjal. Akhirnya Gus Dur pun pergi menghadap sang khalik (meninggal dunia) pada hari Rabu 30 Desember 2009 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada pukul 18.45 WIB.[4]
Gus Dur merupakan seorang intelektual. Beliau telah menulis gagasan dan pemikiran yang kreatif. Tema dalam gagasan tersebut beragam pula. Ada tujuh tema pokok yang menjadi perhatian Gus Dur selama ini. Tujuh hal yang dimaksud adalah:[5]
1.      Pandangan dunia pesantren.
2.      Pribumisasi Islam.
3.      Keharusan demokratis.
4.      Finalitas, negara-negara pancasila.
5.      Pluralisme agama.
6.      Humanitarinisme universal.
7.      Antropologi Kiai.

B.       Pengertian Islam Kosmopolitan
Pemikiran Islam kosmopolitan yang dikemukakan Gus Dur merupakan salah satu indikasi adanya kelompok kecil yang mengambil peran dalam mewarnai corak sistem di masyarakat menuju sistem dan tatanan yang lebih baik. Pandangan Islam kosmopolitan adalah suatu pandangan yang mengakui perlunya reformulasi substansial dari peradaban yang ada, kerangka institusional, moral, spiritual, dan etika sosial guna merespons hak-hak dasar universal menghormati agama, idieologi dan kultural lain serta menyerap sisi-sisi positif yang ditawarkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam kosmopolitan menuntut adanya sikap inklusif, pengakuan adanya pluralisme budaya dan heterogenitas politik sehingga umat Islam dapat berdialog dengan peradaban global, memunculkan sikap kritis, dan mengoreksi budaya sendiri.
Pemikiran Islam kosmopolitan yang dikemukakan Gus Dur lebih memberikan perhatian pada persoalan-persoalan kemanusiaan universal  dan menghindari simbolisme serta formalisasi Islam dalam melawan kekuatan yang datang dari luar Islam. Konsep ini berakar pada ajaran universal islam sebagaimana termaktub dalam lima jaminan dasar berikut ini : Keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum  (hifdzu an- nafs), Keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan untuk berpindah agama (hifdzu ad-adin), keselamatan keluarga dan keturunan (hifdzu an-nasl), keselamatan harta benda dan milik pribadi dari gangguan atau penggusuran di luar prosedur hukum (hifdzu al-mal), dan keselamatan hak milik dan profesi (hifdzu al-aqli).[6]

C.       Ciri-ciri Islam Kosmopolitan
Islam kosmopolitan bermakna bahwa islam yang memiliki pandangan atau wawasan luas. Dengan artian orang yang beragama islam itu hendaknya mempunyai wawasan dan pandangan luas terhadap segala hal yang di hadapinya. Selanjutnya islam kosmopolitan mempunyai ciri atau visual dalam keseharian.
Kosmopolitanisme peradaban Islam muncul dalam sejumlah unsur dominan, seperti hilangnya batasan etnis, kuatnya pluralitas budaya dan heterogenitas politik. Kosmopolitanisme itu bahkan menampakkan diri dalam unsur dominan yang menakjubkan, yakni kehidupan beragama yang eklektik selama berabad-abad. Dalam konteks inilah, warisan nabi dalam penciptaan peradaban Madinah menjadi dasar utama lahirnya kosmopolitanisme peradaban Islam. Tak salah kemudian kalau Robert N Bellah, sosiolog Barat terkemuka, menyebut Madinah sebagai kota modern, bahkan sangat modern untuk ukuran zaman waktu itu. Karena kondisi sosiologis-geografis waktu itu, struktur Timur Tengah belum mampu menopang struktur kosmopolitan Madinah yang ditampilkan Muhammad. Tak salah juga kalau sejarawan agung Arnold J. Toynbee menyebut peradaban Islam sebagai oikumene (peradilan dunia) Islam. Oikumene Islam ini, lanjut Toynbee, adalah salah satu diantara enam belas oikumene yang menguasai dunia.[7]
Jejak kosmopolitanisme peradaban Islam dalam membentuk pencerahan di dunia Timur Tengah menjadi jejak utama lahirnya pencerahan di Barat. Watak-watak Islam yang terbuka, toleran, moderat, dan menghargai keragaman umat manusia, mencari ciri utama umat Islam dalam merumuskan sebuah peradaban agung. Lahirlah para arsitek masa depan Islam yang mencipta ragam keilmuan yang terbentang lebar: ada fisikawan, astronom, dokter, filosof, dan sebagainya. Uniknya, disamping mereka menguasai ragam keilmuan yang terbentang luas, para intelegensi muslim juga menjadi agamawan yang hafat al-Quran & al-Hadits, ahli tafsir, ahli fiqih, dan bahkan ahli tasawuf. Lihat disana ada al-Ghazali, al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusd, dan sebagainya.
Jalan kosmopolitanisme peradaban Islam yang diwariskan Nabi Muhammad dan para pemikir Islam harus diteruskan sepanjang masa. Umat Islam Indonesia harus berperan aktif mewujudkan jejak kosmopolitis tersebut, yakni dengan mengusung spirit keterbukaan lintas peradaban. Dalam spirit inilah, kita bisa merujuk ulang spirit buku Gus Dur, “ Islamku, Islam Anda, Islam Kita“, sehingga lahir sebuah pemahaman baru yang kritis, progresif, dan visioner. Dari pemahaman inilah akan lahir sosok-sosok masa depan, yang dalam bahasa Arnold J. Toynbee dikatakan sebagai minoritas kreatif. Kaum minoritas kreatif inilah, lanjut Toynbee, yang nantinya bisa mengubah jarum sejarah peradaban dunia.[8]
Watak kosmopolitanisme dan universalisme ini digunakan Gus Dur untuk melakukan pengembangan terhadap teologi ahl al-sunnah wa al-jama’ah (Aswaja) dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan masyarakat. Jika selama ini paham Aswaja, terutama di lingkungan NU, hanya terkait dengan masalah teologi, fiqih, dan tasawuf, bagi Gus Dur, pengenalan Aswaja harus diperluas cakupannya meliputi dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat. Tanpa melakukan pengembangan itu, maka Aswaja akan sekedar menjadi muatan doktrin yang yang tidak mempunyai relevansi sosial. Dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat yang dimaksud Gus Dur adalah 1) pandangan manusia dan tempatnya dalam kehidupan; 2) pandangan tentang ilmu pengetahuan dan teknologi; 3) pandangan ekonomis tentang pengaturan kehidupan bermasyarakat; 4) pandangan hubungaan individu dan masyarakat; 5) pandangan tentang tradisi dan dinamisasinya melalui pranata hukum, pendidikan, politik dan budaya; 6) pandangan tentang cara-cara pengembangan masyarakat; 7) pandangan tentang asas-asas internalisasi dan sosialisasi yang dapat dikembangkan dalam konteks doktrin formal yang dapat diterima saat ini. Dengan kerangka pengembangan Aswaja yang diajukan Gus Dur ini terlihat sekali upayanya agar Aswaja tidak menjadi doktrin yang baku dan beku, tapi doktrin yang dinamis. Gus Dur seolah ingin mengatakan kalau Aswaja ingin menjadi doktrin yang hidup, tidak ada pilihan lain kecuali dia harus mau berinteraksi secara terbuka dengan perkembangsan realitas sosial.[9]
Jadi dari beberapa paragraf dalam bab ciri-ciri kosmopolitanisme peradaban islam dapat kita ambil bagian demi bagian yang merupakan menjadi ciri islam kosmopolitan yaitu umat islam yang berkehidupan agama secara elektik, watak islam yang terbuka, toleran, moderat, menghargai keragaman umat manusia, keterbukaan lintas peradaban, kritis progresif dan visioner.
D.    Apresiasi masyarakat Indonesia terhadap pemikiran islam kosmopolitan
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bukanlah Gus Dur bila dalam berbicara tidak kontroversial, nyeleneh, nyentrik dan menyelipkan kritik. Maka tak heran bila dalam tulisannya kita temukan kritik-kritik yang tajam, mulai mengkritik pemerintah, politisi hingga kelompoknya sendiri. Namun dibalik sikap kontroversinya, kenyelenehan dan kenyentrikannya selalu menjadi angin segar terhadap perkembagan Islam di Indonesia.
Gus Dur telah dikenal banyak kalangan. Beliau terkadang tampil sebagai sosok pemikir, penulis, sastrawan, budayawan bahkan menjadi seorang politisi Islam Indonesia.
Sebagai salah satu tokoh pejuang demokrasi hak asasi manusia (HAM) dan anti kekerasan, Gus Dur mampu memberikan warna tersendiri terhadap pandangan-pandangan ke-Islaman, budaya, sosial, ekonomi dan politik, khususnya di Indonesia. Tidak hanya itu, beliau juga telah mendapat pengakuan dari dunia bahwa komitmen dan perjuangan Gus Dur menegakkan demokrasi, HAM, membela kaum minoritas dan toleransi, sudah diakui luas. (Baca: Umaruddin Masdar hal. 159).
Bahkan dalam kelompoknya sendiri, tokoh NU seperti KH M. Cholil Bisri dan KH Muchith Muzadi mengakui, Gus Dur disebut sebagai azimat atau jimatnya NU. Karena Gus Dur hadir ke tengah-tengah NU di saat ormas itu dalam kondisi lemah. Sehingga dengan kehadiran Gus Dur di NU, mampu menyelematkan NU menjadi ormas keagamaan yang berpengaruh dan menjadikan organisasi terbesar di Indonesia.
Jadi hal yang digagas Gus Dur selama ini tidak lepas dari lima konsep dan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang dianut NU, yakni tawasuth, ta'adul, tasamuh, tawazun, dan amar ma'ruf nahi mungkar. Melalui konsep inilah, Gus Dur mampu mengimplementasikan apa yang terkandung dalam nilai-nilai Islam itu sendiri. Bagi Gus Dur, memahami Islam tidak hanya melalui teks saja, tapi dengan "tafsirul kitab bil kitub" (Menafsir kitab dengan buku yang lain). Karena kalau hanya berhenti di teks, maka kita bisa jadi penyembah huruf-huruf. Pemikiran ke-Islaman Gus Dur adalah Islam yang membawa kedamaian, kesejukan, ketenteraman, dan Islam yang bisa berdialog dengan lingkungannya.
Membaca pemikiran dan gagasan Gus Dur tidak bisa didekati dengan satu sudut pandang saja. Karena beliau ibarat membaca sebuah teks yang multitafsir dan ketika membacanya sulit dipahami. Inilah salah satu sepak terjang Gus Dur, ketika melihat fenomena sosial yang terjadi di Indonesia.
Buku berjudul “Islam Kosmopolitan, Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan” merupakan pemikiran Gus Dur dalam merespon isu-isu yang dianggap aktual sejak 1980 hingga 1990-an. Selain itu, buku ini berisi kumpulan tulisan-tulisan Gus Dur yang telah berserakan di media lokal maupun nasional.
Ada beberapa pemikiran dan gagasan Gus Dur yang menarik dalam buku ini yakni mengenai "Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam". Dalam tulisannya, Gus Dur menggaris bawahi tentang ajaran moralitas Islam yang secara teoritik bertumpu pada adanya lima buah jaminan dasar yang diberikan Islam kepada warga masyarakat, baik pada perorangan maupun kelompok.[10] Kelima jaminan dasar tersebut seperti yang telah disebutkan di atas.
Menurut Gus Dur, jika dari lima jaminan dasar di atas itu tampil sebagai pandangan hidup, maka tidak mustahil negara akan bisa dikelola oleh pemerintah yang berdasarkan hukum, adanya persamaan derajat dan sikap tegang rasa terhadap perbedaan pandangan. Di samping itu, secara fungsional, misi Islam terhadap perbaikan sosial akan secara efektif bisa dikendalikan yang pada akhirnya terciptalah budaya toleransi, keterbukaan sikap, peduli terhadap kemanusiaan dan keprihatinan yang penuh kearifan akan keterbelakangan umat Islam sendiri.
Dengan demikian, Islam seperti itulah yang selama ini diperjuangkan Gus Dur. Islam yang ada di tangan Gus Dur, adalah Islam yang bisa tampil sejuk, pluralis, serta demokratis. Agama Islam menjadi agama yang melindungi umat manusia, bukan agama yang malah menebar ketakutan kepada umat agama lain.
Terlepas dari kekurangan buku yang merupakan kumpulan tulisan dan kerap terjadi pengulangan, sehingga dikatakan kurang sistematis, buku ini tetaplah layak dan menarik untuk dijadikan bahan bacaan, referensi, dan penyelamatan "Islam Kita" dari pemaksaan pemahaman yang selama ini sering menyerang kita semua. Bagi Gus Dur, memahami Islam tidak hanya dipahami secara tekstual aja, melainkan dengan dengan konteks yang saat ini terjadi.


BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
KH. Abdurrahman Wahid atau yang sering dikenal dengan Gus Dur, merupakan tokoh pemikiran islam yang hebat. Salah satu pemikiran beliau tentang islam yaitu “Islam Kosmopolitan”. Sedangkan ciri-ciri kosmopolitanisme peradaban islam dapat kita ambil bagian demi bagian yang merupakan menjadi ciri islam kosmopolitan yaitu umat islam yang berkehidupan agama secara elektik, watak islam yang terbuka, toleran, moderat, menghargai keragaman umat manusia, keterbukaan lintas peradaban, kritis progresif dan visioner.
                                  

DAFTAR PUSTAKA

Rifa’i, Muhammad , Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid): biografi singkat 1940-2009, Yogyakarta: Garasi House of book, 2012.
Sani, Abdul, Lintas Sejarah Pemikiran Perkebangan Modern Dalam Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,1998.
Wahid, Abdurrahman , Islam Kosmopolitan: Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan, Jakarta: The Wahid Institute, 2007.
Pianda, Jondra, 2010, http://jondrapianda.blogspot.com/2011/05/sejarah-perkembangan-pemikiran-dan.html diunduh tanggal 18 Desember 2013 pukul 11:43.
Profil Abdurrahman Wahid _ merdeka.com.htm
Solopos, di unduh hari rabu 18 Desember 2013 pukul 10:21.
Wisata buku.com, di unduh 18 Desember 2013 pukul 10:44.              
                                                                                     



[1] Abdurrahman Wahid, Islam Kosmopolitan: Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan, (Jakarta: The Wahid Institute, 2007), hal. Xiii.
[2] Profil Abdurrahman Wahid _ merdeka.com.htm
[3] Muhammad Rifa’i, Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid): biografi singkat 1940-2009, (Yogyakarta: Garasi House of book, 2012), hal. 48.
[4] Profil Abdurrahman Wahid _ merdeka.com.htm
[5]Jondra Pianda, 2010, http://jondrapianda.blogspot.com/2011/05/sejarah-perkembangan-pemikiran-dan.html diunduh tanggal 18 Desember 2013 pukul 11:43.

[6]Wahid, Abdurrahman, Islam Kosmopolitan: Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan, (Jakarta:The wahid Instituti, 2007), hal. 3-5.

[7] Abdurrahman Wahid, Islam kosmopolitan, (Jakarta: The Wahid Institute, 2007), hal. 9.
[8] Solopos, diunduh hari rabu 18 Desember 2013 jam 10:21.
[9] Wisata buku.com, di unduh 18 Desember 2013 ,pukul 10:44.     
[10] Abdurrahman Wahid, Islam Kosmopolitan: Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan, (Jakarta: The Wahid Institute, 2007), hal. xxi

Kamis, 11 Agustus 2016

POTRET PENDIDIKAN DI MESIR

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk membangun kepribadian anak bangsa agar dapat berperan positif dalam kehidupannya, baik dalam kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Oleh karena itu setiap negara memiliki suatu system pendidikan nasional, yang mana sistem ini mempunyai acuan bagi setiap pendidikan yang ada di negara tersebut. Setiap negara memiliki sistem pendidikan yang berbeda dengan negara lain, walaupun tidak dapat dinafikan adanya kesamaan sistem yang diterapkan dalam setiap negara tergantung dengan kondisi dan kebutuhan bagi negara tersebut.
Begitu juga Mesir yang terkenal dengan sebutan ardhul anbiyâ (negeri para nabi), memang telah menjadi kiblat keilmuan keislaman dunia. Di samping mempunyai segudang peradaban, negeri seribu menara ini juga merupakan gudang segala ilmu. Negara ini seakan memiliki magnet tersendiri. Terbukti, Mesir telah memikat jutaan hati para pelajar dari berbagai penjuru dunia untuk menimba ilmu di sana.
Mesir diakui secara luas sebagai pusat budaya dan politikal utama di wilayah Arab dan Timur Tengah. Modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari pengenalan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Napoleon Bonaparte pada saat penaklukan Mesir. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang dicapai Napoleon Bonaparte yang berkebangsaan Perancis ini, memberikan inspirasi yang kuat bagi para pembaharu Mesir untuk melakukan modernisasi pendidikan di Mesir yang dianggapnya diam ditempat. Diantara tokoh-tokoh tersebut Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Ali Pasha. Dua yang terakhir, secara historis, kiprahnya paling menonjol jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain.
Modernisasi pendidikan merupakan sebuah perkembangan pendidikan yang bisa menyesuaikan laju zaman. Perkembangan itu dapat dilihat dari berbagai aspek seperti kondisi negaranya, kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan, pengembangan pendidikan di negara tersebut dan lainnya.
Begitu juga perkembangan pendidikan di Mesir. Perubahan-perubahan di negara Mesir mampu mengubah pendidikan menjadi lebih baik dan berkembang pesat. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas mengenai potret pendidikan di Mesir.

B.     Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini, penulis hanya akan memfokuskan pembahasan pada beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.      Bagaimana sejarah dan perkembangan pendidikan di Mesir?
2.      Apa tujuan pendidikan di Mesir?
3.      Bagaimana Manajemen pendidikan di mesir dan problematikanya?
4.      Bagaimana system pendidikan di Mesir?
5.      Bagaimana rekonstruksi pengembangan pendidikan di Mesir?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui sejarah dan perkembangan pendidikan Mesir
2.      Mengetahui tujuan pendidikan Mesir
3.      Mengetahui menejemen pendidikan dan problemnya di Mesir
4.      Mengetahui system pendidikan Mesir
5.      Mengetahui rekonstruksi pengembangan pendidikan Mesir untuk Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah dan Perkembangan Pendidikan di Mesir
Dinasti Fathimiyah adalah Dinasti Syi’ah yang berkuasa dari 909 M (296 H) sampai dengan 1171 M (569 H) atas dasar legitimasi klaim keturunan Nabi lewat Fatimah (Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatulloh, 2002 : 293) dan Hazrat Ali dari Ismail anak Ja’far Sidiq, keturunan keenam dari Ali (Ajid Thohir, 2009 : 112). Dinasti ini didirikan sebagai tandingan bagi penguasa dunia muslim saat itu yang terpusat di Baghdad, yaitu Bani Abbasiyah (Lukman Yasin dkk, 2008 : 787). Ubaidillah Al Mahdi mendirikan Dinasti Fatimiyah yang lepas dari kekuasaan Abbasiyah (Samsul Munir, 2009 : 254).
Masa kegemilangan Dinasti Fatimiyah ditandai dengan berpindahnya pusat pemerintahan ke Kairo. Setelah Kairo berdiri dan dilengkapi dengan berbagai sarana termasuk masjid Al Azhar yang kemudian dijadikan pusat Perguruan Tinggi Islam oleh Khalifah Fatimiyah Al Aziz (975 – 996 M). Jauhar juga mendirikan Dar al-Hikmah di tahun 1005 M. Kemudian Dinasti Fatimiyah yang ditopang dengan wilayah pengaruhnya yang luas mampu membangkitkan berbagai kegiatan ilmiah, perdagangan, dan keagamaan.
Sejak masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah ini, Mesir menjadi pusat intelektual Muslim dan kegiatan ilmiah lainnya. Kegiatan pendidikan biasanya dilakukan di masjid-masjid maupun di tempat keramaian. Tumbuhnya Mesir sebagai pusat ilmu keislaman didukung oleh para penguasanya yang sepanjang sejarah menaruh minat besar pada bidang pengetahuan. Kecenderungan para khalifah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan terlihat dari zaman Al Muiz. Usaha yang mereka lakukan adalah menyebarkan para da’i untuk melakukan dakwah yang disampaikan dengan tujuan untuk menyampaikan doktrin agama dan menghimbau rakyat untuk berpendidikan tinggi.
Adapun metode yang digunakan adalah halaqoh di halaman masjid. Pada masa Khalifah Al Aziz, semangat intelektual dan pengembangan kualitas pemikiran orang Mesir mampu mengungguli Negara lain. Al Aziz mencoba merubah fungsi masjid Al Azhar yang dibangun oleh Jauhar menjadi sebuah Universitas pertama di Mesir yaitu Universitas Al Azhar dan Mesir menjadi pusat peradaban dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman (Binti Maunah, 2011 : 87).
Secara historis, modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari pengenalan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Napoleon Bonaparte pada saat penaklukan Mesir (wikipedia.org). Perjalanan Napoleon ke Mesir pada 2 Juli 1798 M membawa sebuah harapan dan perubahan yang bagus bagi sejarah perkembangan bangsa Mesir, terutama yang menyangkut pembaharuan dan modernisasi pendidikan di sana. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Perancis banyak memberikan inspirasi bagi tokoh-tokoh Mesir untuk melakukan perubahan baik secara sistem dan kurikulum pendidikan yang sebelunya dilakukan secara konvesional.
Kedatangan Napolen ke Negara Mesir tidak hanya dengan pasukan perang, tetapi juga dengan membawa seratus enam puluh orang diantaranaya pakar ilmu pengetahuan, dua set percetakan dengan huruf latin, Arab, Yunani, peralatan eksperimen, diantaranya membawa teleskop, mikroskop, kamera, dan lain sebagainya, serta seribu orang sipil. Tidak hanya itu, ia pun mendirikan lembaga riset bernama Institut d’Egypte, yang terdiri dari empat departemen, yaitu: ilmu alam, ilmu pasti, ekonomi dan polititik, serta ilmu sastera dan kesenian (Harun Nasution, 1974 : 30). Lembaga ini bertugas memberikan masukan bagi Napoleon dalam memerintah Mesir. Lembaga ini terbuka untuk umum terutama ilmuwan (ulama) Islam. Ini adalah moment kali pertama ilmuwan Islam kontak langsung dengan peradaban Eropa, termasuk Abd al-Rahman al-Jabarti. Baginya perpustakaan yang dibangun oleh Napoleon sangat menakjubkan karena Islam diungkapkan dalam berbagai bahasa dunia.  Diantara tokoh yang mendapatkan inspirasi tersebut adalah Muhammad Ali Pasya dan Muhammad Abduh. Dua tokoh ini, kiprahnya paling menonjol jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain.
Muhammad ali Ali Pasya sebetulnya buta huruf, namun ia mengetahui betapa pentingnya arti pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk kemajuan dan kekuatan suatu negara. Dalam rangka memperkuat kedudukan di Mesir dan sekaligus melaksanakan pembaharuan pendidikan di Mesir, ia mengadakan pembaharuan dengan jalan mendirikan sekolah yang meniru sistem dan pengajaran Barat. Di sekolah-sekolah, diajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan seperti yang ada di Barat. Bahkan untuk memenuhi tenaga pengajar Ali Pasya mendatangkan guru-guru dari Barat (terutama dari Prancis). Muhammad Ali juga mengirimkan sejumlah pelajar ke Barat, dengan tujuan agar mereka menguasai ilmu pengetahuan Barat, agar setiba kembali ke Mesir mampu mengembangkan ilmunya di Mesir (Harun Nasution, 1974 : 120).

B.     Tujuan Pendidikan di Mesir
Pada tahun 1987, pemerintah Mesir menyatakan bahwa pengembangan secara ilmiah harus dilakukan dalam sistem pendidikan. Oleh sebab itu, diputuskan bahwa konsep struktur, fungsi dan manajemen pendidikan semua harus ditinjau ulang.
Mesir memprogramkan wajib belajar, Masyarakatnya harus pandai dalam hal baca tulis dan terdidik, harus memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menjadi masyarakat yang produktif, pendidikan juga harus fleksibel, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Adapun tujuan-tujuan utama dari pendidikan di Mesir adalah sebagai berikut:
1.      Menyiapkan dan mengembangkan warga Mesir dengan cara yang akan membantu mereka untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat yang berubah modern untuk menghadapi tantangan terbarukan, selain memungkinkan mereka untuk memahami dimensi religius, nasional, dan budaya dari identitas mereka.
2.      Pendidikan dimaksudkan untuk menegakkan demokrasi dan persamaan kesempatan serta pembentukan individu-individu yang demokratis.
3.      Upaya pembentukan Negara independen setelah bebas dari penjajahan Barat.
4.      Pendidikan juga dimaksud sebagai pembangunan bangsa secara menyeluruh, yaitu menciptakan hubungan fungsional antara produktivitas pendidikan dan pasar kerja.
5.      Pendidikan harus mampu mengiring masyarakat pada pendidikan sepanjangan hayat melalui peningkatan diri dan pendidikan diri sendiri.
6.      Pendidikan harus mencakup pengembangan ilmu dan kemamuan tulis baca, berhitung, mempelajari bahasa-bahasa selain bahasa arab, cipta seni, serta pemahaman atas lingkungan (Departemen Agama RI, 44).



C.    Manajemen Pendidikan di Mesir
1.      Otoritas
Sistem pendidikan Mesir adalah tanggungjawab kementrian negara. Kementrian Pendidikan bertanggungjawab mulai dari pendidikan prasekolah sampai ke pendidikan tinggi dalam aspek perencanaan, kebijakan, kontrol kualitas, kordinasi dan pengembangannya. Pejabat-pejabat pendidikan di tingkat governorat bertanggung jawab atas pengimplementasiannya. Mereka yang memiliki lokasi, membangun, dan melengkapi serta mengawasinya agar berjalan dengan baik. Mereka juga berusaha mendorong sumbangan dana partisipasi masyarakat. Ringkasnya, mereka bertanggung jawab atas segala sesuatu untuk menjamin terselenggaranya operasional dengan efisien.
Menteri bersidang dalam waktu-waktu tertentu dengan dewan-dewan yang berada di bawah kesertariatan dan sejumlah dewan-dewan lain. Menteri juga memimpin sidang dewan universitas yang bertanggungjawab atas prencanaan dan pembuatan kebijakan. Struktur organisasi goernorat pada dasarnya mirip dengan struktur organisani di pusat kementrian tetapi hanya lebih sederhana. Mesir juga dibagi dalam 140 distrik pendidikan dengan jaringan supervisor  dan administrator.
Kementrian Al-azhar bertanggung jawab mengatasi kebijakan dan perencanaan pendidikan pada universitas Al-azhar dan perguruan tinggi serta sekolah-sekolah lainnya dalam lingkungan Al-azhar (Agustian Syah Nur, 2011 : 233).

2.      Kurikulum dan Metodologi Pengajaran
Sejarahnya, Muhammad Ali Pasya seorang keturunan Turki yang merupakan peletak dasar pendidikan modern di Mesir. Ia mempunyai pandangan bahwa Mesir dapat menjadi negara maju apabila mampu mengadopsi dan memasukkan sistem dan kurikulum pendidikan Barat (Binti Maunah, 2011 : 88).
Di Mesir, garis besar kurikulum ditentukan oleh sebuah tim. Tim kurikulum ini terdiri dari konsultan, superversior, para ahli, para profesor pendidikan, dan guru-guru yang berpengalaman. Biasanya ada sebuah panitia untuk setiap mata pelajaran atau kelompok pelajaran, dan ketua-ketua panitia ini diundang rapat sehingga segala keputusan dapat dikoordinasikan. Kurikulum yang sudah dihasilkan panitia diserahkan kepada Dewan Pendidikan Pra Universitas yang secara resmi mengesahkan untuk diimplementasikan. Berdasarkan peraturan, kurikulum dapat dirubah dan disesuaikan untuk mengakomodasi kondisi setempat atau hal-hal khusus. (Agustian Syah Nur, 2011 : 233). Adapun Pusat Pendidikan Nasional bertanggung jawab mengumpulkan informasi mengenai materi pengajaran berdasarkan kurikulum dan implementasinya di lapangan.
Pada tingkat implementasi kurikulum, Kementrian Pendidikan Mesir lebih bertanggungjawab untuk pengembangan pendidikan ditingkat secondary education dan tanggung jawab juga sampai pada penyelenggaraan ujian nasional. Sementara itu untuk pengembangan dan implementasi pendidikan pada jenjang pendidikan Pre-School dan Elementary Educatin menjadi tanggungjawab tingkat distrik, dan pada tingkat Preparatory Education pada tigkat states atau tingkat propinsi.
Pada penjabaran di atas, salah satu faktor penghambat berkembangnya kurikulum secara merata adalah kualitas guru yang bertetangan dengan apa yang digariskan kurikulum. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan dan pengetahuan guru yang dilakukan di Mesir lebih mengarah pada pemenuhan standar kompetensi yang tidak hanya untuk memenuhi standar nasional, tetapi juga untuk peningkatan kemampuan standar internasional. Arah kebijakan ini memiliki nilai strategis dalam penyiapan SDM guru yang mampu mengawal pendidikan yang berkualitas di masa mendatang.
Pemerintah Mesir sangat gigih mendorong lebih banyak pengajaran bahasa asing terutama bahasa inggris dengan visi pendidikan global. Bahasa asing di ajarkan  pada sekolah menengah dan kadang-kadang juga mulai diajarkan pada sekolah-sekolah dasar swasta. Pelajaran bahasa asing merupakan keharusan di sekolah, dan bahasa Inggris, Prancis dan Jerman merupakan tiga bahasa asing yang banyak di pilih.
Pada umumnya, sekolah dan masing-masing guru mempunyai kebebasan yang agak luas dalam memilih materi pelajaran (Agustian Syah Nur, 2011 : 235-236).
Dalam proses pelaksanaan pengembangan kurikulum untuk mencapai pendidikan yang direncakanakan, nampaknya tidak semudah yang telah direncanakan. Timbul berbagai kendala Dan problematika, di antaranya adalah masalah pertumbuhan penduduk yang begitu cepat di Republik Arab Mesir. Hal ini berdampak meningkatnya tuntutan atas pendidikan, dan seterusnya, meningkat pula jumlah murid. Peningkatan jumlah murid ini sebagai pengaruh dari kenyataan bahwa semenjak Revolusi tahun 1952, Mesir selalu berjuang memperluas pendidikan sebagai salah satu prasyarat untuk pembangunan sosial dan ekonomi.
Problem lain yang ditimbulkan yakni sistem birokrasi dan administrasi yang carut marut, infrastruktur yang belum memadai, sehingga tak memungkinkan bagi semua mahasiswa untuk masuk dalam kelas, dengan jumlah mahasiswa yang membludak, namun ruang kelas belum bisa menampungnya secara sempurna. Barangkali ini juga yang menyebabkan absen kuliah tak lagi penting di Universitas Al-Azhar. Bisa dikata, dari segi satu ini, mungkin kita bisa sedikit berbangga. Karena setidaknya sebagian sekolah atau universitas kita di Indonesia, mempunyai sistem birokrasi dan administrasi yang lebih tertata, walau masih banyak juga yang keadaannya masih sangat memprihatinkan.
Dari sini dapat ditarik sebuah simpulan kecil bahwa setiap negara bahkan itu negara maju sekalipun memiliki sebuah permasalahan khususnya dalam bidang pendidikan yang masih saja terdapat kendala-kendala. Untuk itu perlu kiranya kita mengambil pelajaran yang bisa kita petik dari corak pendidikan Mesir tersebut, dan mencoba membandingkan dengan pendidikan yang ada di Indonesia. Mengambil segi positifnya dan mengubahnya menjadi  lebih baik.

3.      Ujian Kenaikan Kelas dan Sertifikasi
Sistem ujian di Mesir sangat memengaruhi pemikiran murid, orang tua serta para pejabat pendidikan karena begitu pentingnya hasil ujian itu. Ujian naik kelas ditetapkan pada Grade 2, 4, dan 5, dan ujian negara pertama dilaksanakan pada akhir grade 8. Murid yang lulus mendapat Sertifikasi Pendidikan Dasar, dan dengan itu dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Jumlah skor menentukan jenis sekolah yang akan dimasuki, dan itu sangat penting karena umumnya hanya murid-murid yang mendapat skor tinggi saja yang dapat masuk ke sekolah-sekolah menengah akademik yang diinginkan menuju universitas. Kalau tidak, mereka masuk kesekolah-sekolah teknik atau institut pendidikan lain. Jadi, masa depan anak muda mesir banyakn tergantung pada nilai yang diperoleh pada ujian negara. Hal ini menjadi sangat penting sehingga menjadi persaingan sesama murid sangat ketat (Sudiyono, 2009 : 10-12).
Sama halnya dengan siswa-siswa yang akan menamatkan pendidikan menengah, karena jumlah skor yang diperoleh menentukan fakultas atau universitas mana yang mereka masuki. Ujian yang sangat kompetitif ini membuat siswa harus belajar keras, dan bahkan menimbulkan percontekan dalam berbagai rupa, dan juga mengakibatkan timbul-timbulnya kursus-kursus privat.                       

D.    Sistem Pendidikan di Mesir
Sistem pendidikan Mesir mempunyai dua struktur parallel yaitu struktur sekuler dan struktur keagamaan Al-Azhar. Struktur sekuler diatur oleh Kementrian Pendidikan, sedangkan Struktur Al-Azhar dilaksanakan oleh Kementrian Agama di negara-negara lain. Selain dari kedua struktur ini, ada pula jenis sekolah yang diikuti sejumlah kecil anak-anak. Misalnya, anak cacat masuk ke sekolah-sekolah khusus, bagi yang ingin menjadi  militer masuk ke sekolah militer, dan ada pula generasi muda yang meninggalkan sekolahnya dan mendaftar pada program-program nonformal yang diselenggarakan oleh berbagai badan atau lembaga.
Dalam penyeleksian tenaga pengajar, sebagai lembaga internasional yang bergerak dalam bidang pendidikan, UNESCO Mesir mengembangkan suatu sistem pelatihan guru untuk mendukung tercapainya sumber daya manusia Mesir yang handal. Training ini diselenggarakan melalui kerjasama dengan perusahan-perusahaan besar yang berperan dalam melakukan sertifikasi keahlian guru selepas training.
Sistem Pendidikan modern di negara Mesir meliputi:
a.       Sekolah Dasar (Ibtida’i) selama 5 tahun.
b.      Sekolah Menengah Pertama (I’dadi) selama 3 tahun.
c.       Sekolah Menengah Atas (Tsanawiyah ‘Ammah) selama 3 tahun.
d.      Pendidikan Tinggi selama 4-6 tahun.
1.      Sistem Sekolah Sekuler (Umum)
Jenjang pertama yang dikenal dengan “Sekolah Dasar” mulai dari “Grade 1” samapai “Grade5”, dan jenjang kedua, yang dikenal dengan “Sekolah Persiapan”, mulai dari “Grade 6” sampai ”Grade” 8. Sekolah persiapan ini baru menjadi pendidikan wajib dalam tahun 1984. Pada sekolah umum tahun pertama (Grade 9) adalah kelas pertama pada Grade 10 murid harus memilih  antara bidang sains dan non sains (IPA vs Non IPA) untuk Grade 10 dan 11.
Pendidikan tinggi di universitas institusi spesialisasi lainya mengikuti pendidikan akademik umum. Pendidikan pada sebagian lembagaa pendidikan tinggi berlangsung selama dua, empat atau lima tahun tergantung pada program dan bidang yang dipilih.
2.      Sistem Sekolah Al-Azhar
Sistem sekolah ini hampir sama dengan sistem sekolah sekuler ada tingkatan sekolah dasar. Perbedaannya ialah bahwa pendidikan agama Islam lebih mendapat tekanan. Dalam kurikulumya terdapat perbedaan, murid boleh memilih apakah ingin masuk ke sekolah umum dua tahun lagi atau masuk ke sekolah agama selama dua tahun.
Pada tingkatan universitas, misalnya terdapat fakultas-fakultas umum konvensional seperti kodokteran, Teknik, Farmasi, Pertanian dan lain-lain, juga memiliki fakultas Darul ‘Ulum yang menyelenggarakan studi Islam.
3.      Pendidikan Nonformal
Pendidikan Nonformal didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan pendidikan terencana diluar sistem pendidikan ini dimaksudkan untuk melayani kebutuhan pendidikan bagi kelompok-kelompok orang tertentu apakah itu anak-anak, generasi muda, atau orang dewasa, apakah mereka laki-laki atau perempuan, petani, pedagang, atau pengrajin, apakah mereka dari keluarga orang kaya atau keluarga miskin. Di Mesir, pendidikan nonformal terutama dikaitkan dengan penghapusan ilistrasi. Dengan demikian, kebanyakan program lebih dikonsentarikan pada pendidikan nonformal ada dalam aspek itu.
Sistem pendidikan Mesir, baik sekolah negeri maupun Al-Azhar, dan pendidikan swasta lainnya, memang mewajibkan pelajar Muslim untuk menghafal Al-Quran. Selain itu, pengajian di mesjid-mesjid bagi jamaah, khususnya anak-anak sekolah juga berperan penting untuk mendorong warga menghafal Al-Quran, kata Menteri Zakzouk, yang juga mantan dekan fakultas teologi Universitas Al-Azhar tersebut.
Sistem pendidikan di Mesir, sejak taman kanak-kanak sudah diwajibkan menghafal Al-Quran. Di Universitas Al-Azhar, misalnya, bagi mahasiswa Mesir program S-1 diwajibkan menghafal 15 juz (setengah) Al-Quran, program S-2 diwajibkan menghafal seluruh Al-Quran. Adapun program S-3, tinggal diuji hafalan sebelumnya.
Kewajiban hafal Al-Quran ini tidak berlaku bagi mahasiswa asing non-Arab, di mana program S-1 diringankan, yaitu hanya diwajibkan hafal delapan juz Al-Quran, dan program S-2 sebanyak 15 juz Al-Quran, sementara program S-3 baru diwajibkan hafal seluruh Al-Quran.
Sementara itu, Pemerintah Mesir dilaporkan setiap tahun mengalokasikan dana khusus sebesar 25 juta dolar AS (1,2 miliar pound Mesir) untuk penghargaan bagi penghafal Al-Quran. Penghargaan itu diberikan setiap peringatan hari-hari Besar Islam bagi pemenang hifzul (penghafal) Al-Quran, berupa uang tunai maupun dalam bentuk beasiswa dan tunjangan hidup. Sudah menjadi tradisi di negeri Seribu Menara itu, perlombaan hafal Al-Quran di setiap hari-hari besar Islam dilakukan secara serentak dari tingkat pusat hingga ke daerah-daerah.

E.     Rekonstruksi Pengembangan Pendidikan di Mesir
Ketika kita membicarakan system pendidikan di Mesir, baik itu kurikulmya, tenaga pengajarnya, peserta didiknya dan lain-lain. Maka jika kita bandingkan dengan Indonesia yang katanya merupakan umat muslim terbesar di dunia, masih jauh terdapat perbedaan, baik dari segi kualitas pengelolaan pendidikan, tenaga pengajar, dan kurikulum yang diterapkan masih banyak terjadi ketidak efektipan.
Untuk itu, mungkin terdapat banyak hal atau system pengelolaan dalam pendidikan di Indonesia yang bisa di rekontruksi dan adopsi dari system pengelolaan pendidikan Mesir dan implementasinya di lapangan, diantaranya yaitu :
1.      Sistem Evaluasi pendidikan di Mesir cukup baik, soal Ujian Nasional mereka berbentuk Essay sedangkan di Indonesia Pilihan Ganda.
2.      Sistem Pengkoreksiannyapun baik, dilembar jawaban tidak di cantumkan nama siswa sedang di Indonesia di cantumkan. Sistem ini mungkin akan menghindarkan tindakan kecurangan yang dapat dilakukan oleh guru, dan di Indonesia ini seringkali terjadi apalagi pada waktu Ujian Nasional.
3.      Di Mesir adanya penyesuaian mata pelajaran yang diberikan sesuai dengan usia siswa.
4.      Melakukan pendidikan untuk calaon Guru dengan cara yang lebih sekektif. Misalanya, UNESCO Mesir mengembangkan suatu sistem pelatihan guru untuk mendukung tercapainya sumber daya manusia Mesir yang handal.
5.      Semangat pembeharuan yang begitu kuat tertanam pada generasi-generasi muda-nya, baik pembaharuan dalam pendidikan, namun juga peradaban dan kebudayaan, maka tidak heran jika Mesir salah satu Negara Islam yang menjadi kiblat peradaban dunia.
6.      Memprioritaskan kemampuan para peserta didiknya untuk terus mengembangkan dirinya sesuai dengan minat dan bakatnya.
7.      Tenaga pengajar memang ahli dalam bidang yang ia ajarkan kepada para peserta didik.


BAB III
KESIMPULAN

Sejarah Pembaharuan pendidikan di Mesir di mulai pada saat mendaratnya Napolean Bonaparte (1798-1799) di Mesir karena merekalah yang mengenalkan kemajuan Barat.
Tokoh-tokoh pembaharuan pendidikan di Mesir yaitu : Muhammad Ali, Jamaluddin al-Afghani, Al-Tahtawi, Muhammad Abduh.
Sistem pendidikan Mesir mempunyai dua struktur parallel yaitu struktur sekuler dan struktur keagamaan Al-Azhar. Struktur sekuler diatur oleh Kementrian Pendidikan. Struktur Al-Azhar dilaksanakan oleh Kementrian Agama di negara-negara lain.
Tim kurikulum terdiri dari konsultan, supervisor, para ahli, para profesor pendidikan, dan guru-guru yang berpengalaman.  Biasanya ada sebuah panitia untuk setiap mata pelajaran atau kelompok pelajaran, dan ketua-ketua panitia ini diundang rapat sehingga segala keputusan dapat di koordinasikan.
Rekontruksi dan adopsi dari system pengelolaan pendidikan Mesir dan implementasinya di Indonesia, diantaranya yaitu: soal Ujian Nasional mereka berbentuk Essay sedangkan di Indonesia Pilihan Ganda, Sistem pengkoreksiannya tidak di cantumkan nama siswa di lembar jawabnya sedang di Indonesia di cantumkan, adanya penyesuaian mata pelajaran yang diberikan sesuai dengan usia siswa, semangat pembaharuan yang begitu kuat tertanam pada generasi-generasi mudahnya, baik pembaharuan dalam pendidikan, namun juga peradaban dan kebudayaan, memprioritaskan kemampuan para peserta didiknya untuk terus mengembangkan dirinya sesuai dengan minat dan bakatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir, 2009, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah
Departemen Agama RI, Belajar Islam di Timur Tengah, Jakarta: Departemen Agama RI
Hitti, Phillip K, 2008, History Of The Arabs, Terj: R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi dengan judul Sejarah Arab, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta
Maunah, Binti, 2011, Perbandingan Pendidikan Islam, Yogyakarta: Teras
Nasution, Harun, 1974, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang
Syah Nur, Agustiar. 2001. Perbandingan Sistem 15 Negara. Bandung: Lubuk Agung.
Sudiyono, 2009, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Rineka Cipta
Thohir, Ajid, 2009, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam: Melacak Akar-Akar Sejarah, Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, 2002, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Djam-batan